~Birunya Langit Cinta~

~Birunya Langit Cinta~
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
==================================
Bawalah aku dalam bunga tidurmu sebagai penghias lentera hatimu, bawalah aku dalam mimpimu ditempat dimana hatimu berada.. mau kah kau menjadi kekasih hatiku???
Hwaaaaa Gubrakkkk ^.^
Sebuah kata cinta yang dilontarkan Bram pada Sofi membuat Sofi begitu terpedaya oleh kata-kata itu…
“Bram…”
“Ya”
“Kamu benar-benar mencintaiku?”
“Ya. Aku benar-benar mencintaimu, Sofi”.
“kamu janji tidak akan menyakitiku dan mengecewakanku?.
“aku janji…”
“Aku janji akan berusaha untuk bisa membalas dan memberikan cinta seutuhnya padamu. Percayalah padaku aku akan selalu ada untukmu”

***============***
Sejak menerima cinta Bram, hidup Sofi pun seakan dipenuhi keceriaan dan bunga-bunga cinta.
Ke kampus berdua, makan berdua, kemana-mana berdua pokoknya dunia ini milik berdua dehh..
Namun jalinan cinta yang indah itu (indah bagi orang yang berpacaran), harus dihadapkan pada kenyataan, ketika suatu hari Ayah dan Ibu Sofi mememperkenalkan seorang pemuda tampan yang usianya sekitar 4 sampai 5 tahun lebih tua ketimbang Sofi.
“Sofi, kenalkan ini bapak dan ibu Usman dan ini Haydar putra dari bapak dan ibu Usman”, tutur ayah Sofi memperkenalkan tamu-tamunya.
“senang bertemu denganmu Sofi”, kata Haydar dengan ramah.
“Terimakasih…”
“Sofi …” ucap ayah Sofi
“kedatangan Bapak dan Ibu Usman kemari adalah sebagai silaturahmi sekaligus ayah akan menyampaikan padamu tentang maksud dan tujuan ayah memperkenalkan Haydar padamu, ayah bermaksud menjodohkanmu dengan Haydar”. ^o^ Sofi teramat sangat terkejut ketika mendengar kata-kata ayahnya itu. Rasanya ingin sekali berkata TIDAAAAAK pada ayahnya. Namun apalah daya ia tak ingin membuat malu kedua orang tuanya itu di hadapan Pak Usman dan Bu Usman… terlebih Sofi sangat menghormati ayah dan ibunya, ia tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya dan membuat sakit hati kedua orang tuanya dengan berkata TIDAK..
“Mari , kita ngobrol di ruang tengah. Biarkan sofi dengan Haydar ngobrol di ruang tamu”. Ajak ayahnya Sofi yang segera di ikuti oleh kedua orang tua Haydar. Mereka pun meninggalkan ruang tamu.
Sepeninggal kedua orang tua mereka, baik Haydar maupun Sofi hanya diam membisu. Seakan keduanya tidak tahu, apa yang mesti mereka bicarakan. Suasana diruang tamu seketika hening. Hanya sesekali terdengar helaan nafas keduanya . atau terkadang keduanya tersenyum jika kedapatan saling pandang.
Lama keduanya mebisu, .
“Sofi… maaf…” Haydar tampak ragu berkata. Kepalanya menunduk, ketika Sofi memandang kearahnya. “Boleh aku bertanya?” Meski kaku akhirnya Haydar bisa mengeluarkan kata pembuka.
“Mengenai apa?”
“Kamu… kamu sudah punya pacar?”.Tanya Haydar
Sofi tidak langsung menjawab pertanyaan. Yang diajukan oleh Haydar. Sesaat dia terdiam sembari menghela nafas panjang dan berkata
“Kenapa mas Haydar Tanya seperti itu?” jawab Sofi.
“Tidak apa-apa. Hanya ingin tahu saja…”
“Mas mau jawaban jujur?”
“Ya, tentu saja”
“Mas tidak kecewa?”
Haydar tersenyum dan berkata “Insyaallah Tidak”.
Kembali Sofi menghela nafas, dalam hati ia berkata, Mestikah aku berkata jujur pada Haydar, kalau aku sudah punya pacar? Walau Haydar berkata tidak kecewa, tapi Sofi jadi tak enak sendiri. Bagaimana juga Haydar dalam penilaiannya tampak lelaki yang baik dan penuh pengertian. Mestikah aku berkata jujur, jika aku jujur tapi aku khawatir justru malah berakibat tidak baik di kehidupan mendatang. Namun jika aku tidak berterus terang, itu sama halnya aku nerima begitu saja perjodohannya dengan Haydar. Padahal aku belum kenal betul dengan Haydar dan bagaimana sifat dan watak Haydar sebenarnya. Akhirnya sofi pun menetapkan hatinya untuk berkata jujur, tentunya dengan harapan, kiranya Haydar mau mengerti dan mendukung dirinya menolak rencana kedua orang tuanya.
“Kenapa ?kok diam?” Tanya Haydar “Tak usah ragu-ragu katakan saja…”
“Maaf, boleh lebih dulu sofi bertanya ?”
“Ya”
“Mas setuju dengan perjodohan kedua orang tua kita?”
“bagiku pribadi tak jadi masalah, apa kau keberatan?” sofi terdiam
“kok diam lagi” tegur haydar.
“apalah dayaku mas…”
“kenapa kau bicara seperti itu?”
“Karena kenyataannya sofi tidak punya pilihan” desah sofi dengan muka murung.
“maksudmu?”
“Ya, meski aku tak setuju dengan cara kuno ini, namun tetap saja ayah akan memaksakan aku. Aku hanya ingin membahagiakan kedua orang tuaku dengan menerima perjodohan ini mas”
“sofi kau sudah punya pacar?” kembali Haydar mempertanyakan pada sofi
Dengan menundukkan kepala Sofi berkata “Yaa aku sudah mempunyai kekasih yang sangat aku cintai”
“ Maafkan aku” ucap Haydar
“kenapa mas minta maaf”
“Karena aku tidak bisa membantumu”
“maksud mas”
“aku pun tak punya pilihan, selain menerima perjodohan yang telah disepakati oleh kedua orang tua kita”.
Sofi menarik nafas panjang dan berkata “mas menyukaiku?”
“jujur saja Yaa” Sofi terdiam bungkam mendengar jawaban Haydar
Sementara kedua orang tua mereka tengah sepakat melaksanakan pernikahan setelah Sofi lulus kuliah. Itu berarti dua bulan lagi Haydar dan Sofi akan dinikahkan.
***
Pagi harinya, begitu sampai dikampus Sofi langsung menemui Bram, dia ingin segera bertemu dan menceritakan apa yang semalam terjadi, masalah kesepakatan perjodohannya dengan Haydar
“Bram… aku mau ngomong sama kamu”
“ngomong apaan”
“Penting”
“ada apa?” Tanya Bram
“kamu benar mencintaiku ?”
“kenapa kamu bertanya seperti itu”
“aku ingin kepastian darimu”
“yaa kenapa?”
“bawa aku pergi dari sini”
“Kemana?. ”
“Kemana saja, yang penting tidak di ketahui oleh papa dan keluargaku”
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Haydar keheranan
Dengan wajah murung Sofi menceritakan apa yang terjadi semalam.
“kamu terima” “belum. Tapi aku tak punya pilihan, lalu bagaimana Bram” ucap sofi
“Tenanglah” ucap Bram
“Tenang?! Bagaimana aku bisa tenang Bram? Dan kenapa kamu seakan tidak merasa cemas atau bingung mendengar aku akan dinikahkan dengan pria lain?. Apa kamu tidak cinta sama aku?”
“Siapa bilang” aku cinta berat sama kamu, namun dalam menghadapi persoalan, semestinya kita harus bersikap tenang. Sebab kalau tidak akibatnya yang kita dapat bukan kebahagiaan, melainkan penyesalan,. Sebaiknya kamu tidak usah cemas. Beri aku waktu untuk memikirkan langkah apa yang akan kita tempuuh, aku akan memikirkannya”
“Tapi benar kamu akan memikirkannya?”
“tentu, aku pun tak ingin kau yang kucintai dan ku sayangi dimiliki oleh orang lain.” Bram mencoba meyakinkan Sofi
***
Setelah dua bulan berlalu Perkawinan yang sebenarnya tidak diinginkan itu akhirnya harus sofi terima, meski sesungguhnya dia tidak menghendaki perkawinan tersebut. Wajah yang bercahaya itu tidak bisa menyembunyikan duri yang mengganjal di hatinya. Namun sofi tak bisa berbuat apa-apa. Karena keputusan Bram yang seakan merelakan dirinya dimiliki orang lain, terasa menyakitkan hati,. Sejak saat itu Bram hanya ngomong sabar, sabar dan sabar tanpa ada usaha untuk membicarakan pada ayah Sofi. Sedangkan waktu perkawinan semakin bertambah dekat.
Karena tidak ada kepastian dari Bram akhirnya dengan berderai air mata Sofi pun harus menerima semua ini. Dia pun menikah dengan Haydar pria yang di jodohkannya itu. Teman dari kedua mempelai semua hadir turut merayakan, hanya Bram yang tak hadir dalam acara itu, Bram benar-benar aneh. Padahal Sofi sudah memberitahukan pada Nayla (sahabat sofi) bahwa dia akan menikah dengan Haydar. Tapi sampai malam begini pun Bram tak menunjukkan batang hidungnya.
Nay…! Sofi memanggil sahabatnya itu dengan setengah berbisik, berharap tak ada yang mendengar. Nayla segera menghampiri sofi.
“Ada apa”
“kamu ketemu sama Bram?”
“Ya”
“Kenapa dia tidak datang?” Tanya Sofi dengan suara masih berbisik, resah dan gelisah bercampur jengkel menjadi satu. “Kenapa Dia ya, apa mungkin dia kecewa?” Sofi melanjutkan
“Tidak juga”
“Kamu ketemu langsung sama dia, bagaimana tanggapan dia ketika kamu kasih tahu aku akan menikah?”
“Biasa saja?” jawab Nayla pendek
“Biasa bagaimana?”
“Ya biasa saja, bagai tak ada apa-apa” Ya sudah papamu ngeliatin terus, sudah ya” jawab nayla
“nanti dulu Nay”
“Tapi papa mu memandangi aku terus, sofi”
Sofi memandang kearah papanya dan benar sepertinya, papanya memang tengah mengamatinya dengan nayla.
“Aku pergi dulu ya?” Nayla memeluk Sofi berusaha memberi kekuatan hati pada Sofi. “Kamu harus percaya, dunia tak selamanya gelap. Ada malam, tentu ada siang. Takan ada kesedihan yang abadi begitu pula tidak ada kesenangan yang abadi, semua ada waktunya. Kau paham maksudku kan?”
“Yaa aku paham Nay” kata Sofi dengan mata yang berkaca-kaca.
“Jadilah istri yang sholehah Sofi,” Nay melangkah ke Haydar yang berdiri disamping Sofi dengan seulas senyum,
“Selamat ya mas Haydar, saya harap mas dapat menjaga Sofi dengan baik”
“Terima kasih , saya pun berharap seperti itu sembari senyum memandang ke arah sofi dan Nayla.”
“ku rasa sudah larut malam saya mohon pamit’ ucap Nayla. Sofi tak menyahut malah semakin menundukkan kepala hatinya masih gelisah dan bingung. Tapi kini dia sudah jadi istri Haydar, sudah sepatutnya dia mengabdi pada suami.
“Hati-hati Nay” Sofi menjawab
Nayla kembali memeluk sofi, rasanya dia tak tega melihat sahabatnya seperti ini.
***
Keesokan Harinya Haydar membawa istrinya, kerumah pemberian kedua orang tuanya sebagai hadiah pernikahannya.. hari demi hari telah berlalu, tampaknya Sofi sedikit-demi sedikit dapat beradaptasi dengan keadaan, dia melayani suami sebagai mana menjadi seorang istri.
“Sofi…” desis Haydar sambil memandang istrinya
“Ya”
“Aku lihat di hari pernikahan kita kau tampak gelisah kenapa? .
Sofi tersentak sama sekali tak menduga kalau Haydar hari itu dia memperhatikannya.
Kekasihmu tidak datang Kenapa?” ucap Haydar kembali
Sofi semakin tersentak dan menundukan kepala, tidak terasa butiran air mata mengalir dari matanya.
“jangan tanyakan itu mas, aku sekarang istrimu” ucap sofi sambil menundukan kepalanya
“Ya aku mengerti, maafkan aku, aku telah merenggut kebahagiaanmu”
“mas tak bersalah, justru aku yang salah, aku yang belum bisa memberi kebahagiaan pada mas”
“jangan begitu, justru aku bahagia bisa mengenalmu dan menjadi suamimu,”.
“Sofi” panggilnya berharap Sofi memandang wajahnya.
Perlahan sofi mengangkat kepalanya, tapi entah kenapa hatinya masih belum bisa menerima semuanya, Haydar memang lebih tampan dan Sholeh daripada Bram, bahkan lebih bertanggung jawab, namun hati memang tak bisa di bohongi, Sofi tetap memikirkan Bram, memikirkan dimakanah Bram saat ini, dan bagaimana keadaaannya serta bagaimana perasaan Bram saat ini. Karena Dia tahu Bram sangat mencintai dirinya.
“Sofi…sudahlah jangan menangis Maafkan aku, jika telah menyakitimu dengan pertanyaanku yang seperti itu” Haydar melanjutkan “Oia kamu ingin melanjutkan kuliah S2 bukan?, besok mendaftarlah, mumpung masih ada waktu pendaftaran” saran Haydar memberi semangat.
“Benarkah mas mengijinkan?,”Tanya sofi terharu. “mas baik sekali, aku semakin berhutang budi’
“apakah seorang suami akan menganggap perbuatanya untuk menyenangkan istri sebuah hutang budi?,Tidak bukan ” Haydar tersenyum (Huuuu Soo Sweeet ^_^)
***
Keesokan harinya Sofi mendaftar ke perguruan tinggi untuk melanjutkan kuliah S2. Ketika sedang berjalan sambil membawa map Sofi berbenturan satu sama lain, Sofi tersentak, memandang kearah pemuda yang bertabrakan dengannya, begitu juga si pemuda bengong setelah tahu siapa yang ditabraknya..
“Kamu?” desis Sofi
“Sofi…” desis pemuda itu yang tak lain adalah Bram. Bram pun hendak mendaftar kuliah.
Namun Sofi dengan cepat mengambil kertas yang berserakan dilantai, dan Sofi pergi begitu saja. Namun dengan cepat Bram memanggil Sofi dan mengejarnya.
Entah apa yang membuat Sofi untuk memberhentikan langkahnya. Sofi menunduk tak ingin menatap bram yang kini tepat dihadapannya.
“Sofi kau marah padaku?, aku minta maaf karena tak bisa datang ke pernikahanmu”. Namun sofi tetap menunduk dan segera berlalu meninggalkan Bram.
Bram menghentakkan tangannya, jengkel sekali mendapat perlakuan seperti itu, tapi Bram cepat menyadari dan berusaha mengintrospeksi diri. Mungkin Sofi sangat kecewa atas tindakannya, bahkan mungkin Sofi menganggap dirinya sebagai lelaki pengecut.
***
Pagi itu Sofi tengah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan suaminya yang akan dibawa pergi, Haydar harus pergi meninggalkan Sofi karena ada tugas di luar kota selama 1 bulan.
Tidak lama kemudian, mobil penjemput dari perusahaan datang, Haydar telah siap untuk berangkat, Haydar mencium kening istrinya.
“Jaga diri baik-baik sayang, awas jangan macam-macam” ucap Sofi
“Buat apa istriku sudah cantik dan sholeh, bahkan melebihi bidadari surga ” ucap Haydar sambil tersenyum pada istrinya. Dan Haydar pun pergi meninggalkan sofi.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” balas Sofi
Hari demi hari sambil menunggu suaminya pulang, Sofi berusaha menyibukan diri dengan mengikuti mata kuliah. Tiap hari dia rajin berangkat ke kampus. Bertemu dengan teman-temannya cukup menghibur hatinya.
“Sofi…”
Sofi tersentak, ketika seorang pemuda memanggil namanya,dan ternyata Bram yang memanggil.
“Kamu mau apa, aku sudah bersuami?!”
Bram menundukkan kepala, lidahnya terasa kelu, dia tahu Sofi telah bersuami, Bram hanya ingin menyapa, “aku hanya ingin meminta maaf sekaligus mengucapkan selamat”. Maafkan aku Sofi…
Sofi pergi berlalu meninggalkan Bram… dalam hatinya kini resah dan gelisah, maafkan aku Bram, aku takut kenangan lama akan kembali mengisi hatiku. Aku tidak ingin menghianati suamiku, walaupun saat ini rasa itu terkadang sulit aku lupakan.
Sesampainya dirumah Sofi hanya melamun, fikiran Sofi tengah dilanda kegalauan yang ada dalam hatinya hanya suaminya dan Bram. Sofi pun pergi menemui Nayla dan Tuti sahabatnya, dan meceritakan semua yang terjadi padanya..
“Ini kesempatanmu sofi… bukankah suamimu sedang di luar kota, dia tidak akan tahu kalau kamu menjalin hubungn dengan bram. Kalau kau masih mencintainya” ucap Tuti
“Tapi… aku masih PERAWAN Tuti”
“Haaah?!!!” Nayla dan Tuti terkejut ketika mendengar pengakuan Sofi..
“Ya, mas Haydar tidak melakukan apa-apa padaku, aku tidak mungkin menghianatinya, dia begitu pengertian dan baik padaku juga sangat setia.”
Setelah menceritakan semuanya pada Nayla dan Tuti, Sofi pamit pulang…
Dijalan sofi bertemu dengan Bram dan beradu pandang…
“Sofi… kau tak mau memaafkan aku?”
“Tak ada yang perlu dimaafkan, aku sudah memaafkanmu, Permisi…” Sofi cepat berlalu meninggalkan Bram
***
Pagi itu Sofi menerima telpon dari suaminya…
“Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam” ucap Sofi
“istriku sayang, bagaimana kabarmu? Kuharap kau baik-baik saja, hampir sebulan kita terpisah, aku rindu padamu sayang. Oh ya lusa kamu ulang tahun kan?, sebelumnya aku ucapkan selamat ulang tahun untukmu, maaf mungkin di hari ulang tahunmu aku tidak bisa hadir. Aku hanya bisa mengirim bingkisan untukmu, semoga kau selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata’ala Aamiin”.
“Alhamdulillah mas ana bii khair. Tidak apa-apa jika mas tak hadir, karena walau bagaimanapun juga mas harus menyelesaikan pekerjaan mas, agar mas cepat pulang.” Jawab sofi
“Terimakasih istriku tercinta kau sudah mengerti keadaanku, oia maafkan mas karna mas, tak bisa berlama-lama karena pekerjaan mas masih banyak..Assalamu’alaikum sayang”
“Wa’alaikum salam, jaga diri mas baik-baik yaa” sofi menutup teleponnya.
***
Dua hari kemudian,..
Hari ini adalah hari ulang tahun sofi, dirumahnya sofi mengadakan acara ulang tahunnya dengan mengundang beberapa anak yatim-piatu dari panti asuhan yang tak jauh dari rumahnya…
Nayla dan Bram pun hadir, karena Sofi mengundang Bram untuk hadir di acara tersebut … saat acara berlangsung tiba-tiba suara telepon berdering
“Halo selamat malam” sapanya
“malam… benar ini rumah nyonya Sofi?” seorang pria bertanya
“ya benar, saya sendiri, ada apa?”
“Oh anda sendiri, saya dokter Doni, suami anda Tuan Haydar mengalami kecelakaan, sewaktu pulang menuju pulang ke rumah”
“apa kecelakaan?!”
“ya kini kini masih dalam perawatan , hanya luka kecil saja”
“Oh Ya Allah, sekarang suami saya berada di rumah sakit mana dok?”
“Tidak jauh dari rumah anda, di Rumah Sakit Mutiara”
“Terima Kasih dok, saya akan kesana sekarang”
Bram dan Nayla menghampiri Nayla, dan Sofi menceritaka apa yang tengah terjadi pada suaminya, mereka pun segera pergi menuju Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit Sofi langsung memeluk suaminya, “Mas…!, mas tidak apa-apa”
Haydar membalas dengan senyuman “Mas tidak apa-apa hanya luka kecil, bagaimana acara ulang tahunmu, kenapa kau kemari?”
“aku tak perduli acara ulang tahunku, bagiiku lebih utama adalah mas,. Aku takut terjadi sesuatu pada mas.”
“Aku mencintaimu mas, aku mencintaimu” “Demi Allah Aku Mencintaimu mas”
“Benarkah?” jawab Haydar dengan sangat senang. Karena semenjak hari pernikahan Sofi sedikitpun tak pernah berkata bahwa ia mencintainya. Benar-benar sebuah kata yang dirindukan oleh Haydar sebuah kata Cinta dari mulut dan hati Sofi
Haydar tersenyum..” “Terima kasih Sofi, kau tahu itulah kata yang selama ini aku ingin dengar darimu, kau memang istriku yang baik juga setia, Kau telah “Lulus Ujian” sebagai istri yang solehah”
“Maksud Mas…?”
“Kamu tahu? Sejak malam pertama kita, aku sengaja tidak memberimu nafkah bathin sebagaimana kewajiban seorang suami, bahkan aku kemudian menyuruhmu meneruskan kuliah dan kemudian pergi meninggalkan mu, kamu tahu kenapa aku lakukan ?”
“Aku ingin mengujimu, aku tahu dikampus kau bertemu kembali dengan Bram, mantan kekasihmu”
“darimana mas tahu” ucap Sofi
Belum juga Haydar berucap, Nayla mengucapkan “Maafkan aku sofi, akulah yang memberitahu pada mas Haydar”
“Ada hubungan apa kau dengan mas Haydar?”
Haydar menjawab “Nayla adalah saudara sepupuku”
“Apa?!, kalian jahat”
“Itu semua kulakukan, karena aku sayang kamu sofi. Dan kalaupun kau ingin kembali pada Bram, Insyaallah aku akan merelakannya, aku ingin kau bahagia, maka aku pun akan bahagia”
“Itu sebabnya mas tak menjamahku?”
“Ya, itupun yang kau inginkan bukan. karena aku tak ingin menodai cinta karena Allah, dan aku tak ingin merampas kebahagiaanmu,. dengan masih sucinya dirimu, kalau memang kau mau kembali pada Bram, maka keadaan mu masih suci, belum ternoda…”
Sofi dengarlah aku pernah mendengar hadits “Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, maka sikapilah para wanita dengan sebaik-baiknya” (HR. Al-Bukhori Kitab An-Nikah no. 5186).
Sofi hanya dapat menangis dalam pelukan Haydar suaminya.
“Tidak mas.. Maafkan aku mas, Bram hanyalah masalaluku, bagiku mas adalah jodohku tulang rusukku yang paling bengkok”
“terkadang cinta membuat seseorang gila, gila akan nafsunya untuk mencintai cinta itu sendiri, jiwaku dikelabuhi nafsu, hingga aku tak mengenal apa arti dari cinta karena Allah. Jiwaku selalu mencari cinta diriku sendiri,. Tanpa memikirkan siapa sebenarnya jodoh yang Allah berikan, aku terlalu egois mas, maafkanlah aku” kini aku Percaya akan sabda Rasulullah SAW “Cintailah kekasihmu sewajarnya saja, karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang paling kamu benci. Bencilah sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu” (HR. At-Tirmidzi).
Maafkan aku mas aku pun lupa akan Firman Allah “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu: Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Albaqarah : 216).

So sahabat jangan pernah pacaran … ok ok ^.^
Barakallahu Fiikum, semoga bermanfaat ^_^

Wasalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

–Renungan dan Motivasi : Ifta Istiany Notes–

3 Comments (+add yours?)

  1. Jada Rakoseum
    Dec 27, 2011 @ 08:32:36

    Dalam kondisi payah, dimana pikiran, pendengaran dan penglihatannya seolah olah telah hilang, ia hanya bisa menjawabnya dengan isyarat jari ke langit sebagai ungkapan tauhid.

    Reply

  2. Riezty
    Mar 06, 2012 @ 18:49:38

    Mengharukan

    Reply

  3. Husnul Khotimah
    Nov 15, 2012 @ 11:42:20

    cerita yang mngharukan dn menarik :)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: