~Imajinasi Kematianku~

Entah kenapa sudah beberapa malam ini setiap aku akan beranjak tidur aku selalu dihantui oleh sosok diriku sendiri ..sosok diriku yang telah membujur kaku dan tak bisa berkata-kata lagi..

Aku membayangkan sesaat setelah sosok roh ini meninggalkan jasad ku yang terbujur kaku dan memasuki ‘dunia’ kehidupan yang baru. Seperti apa kira-kira aku disambut Malaikat. Tersenyumkah aku? Atau gemetar ketakutan ketika Malaikat memberi salam :

~ “Wahai Rini, engkaukah yang meninggalkan dunia atau dunialah yang meninggalkanmu?”

~ “Wahai Rini, engkaukah yang merengkuh dunia atau dunia yang merengkuhmu?”

~ “Wahai Rini, engkaukah yang mematikan dunia atau dunia yang mematikanmu?”

Aku terdiam… diam dan terus berdiam dan bergetar seluruh tubuhku ketika aku membayangkan itu semua ..namun kembali aku membayangkan ketika jasad ku terbujur kaku di samping seonggok pohon pisang aku yang tak berdaya dan siap-siap dimandikan orang lain. Akankah aku tegar menjawab pertanyaan Malaikat.

~ “Wahai Rini, dimanakah tubuhmu yang kuat itu, yang dulu bisa berjalan dan berlari sesuka hatimu, mengapa kini kau tak berdaya?”

~ “Wahai Rini, dimanakah lidahmu yang tajam dulu? , dimanakah suaramu yang dulu? Mengapa sekarang engkau membisu dan tek menjawab pertanyaan ku?” dimanakah orang-orang yang kau kasihi atau katanya yang mengasihimu? Mengapa mereka tidak menemanimu dan membiarkanmu sendirian? Berapa lama mereka akan mengingatmu setelah enkau terbujur kaku?

Aku terus berdiam diri sampai saatnya aku membayangkan saat tubuhku terbujur kaku diatas kain kafan yang siap membungkusku bagai barang kiriman yang siap untuk dikirimkan.. dengan tenang kah aku menjawab pertanyaan Malaikat.

~ “Wahai Rini, bersiapkah engkau pergi jauh tanpa bekal?”

~ “Wahai Rini, engkau akan pergi dari rumahmu, tinggalkan semua yang kau miliki dan tak akan pernah kembali !!!”

~ “Wahai Rini, sekarang naiklah ke tandu yang hanya sekali saja akan kau nikmati !’

Setelah aku memasuki keranda mayat menuju liang kubur yang diiringi sanak saudara dan handai taulan mengantarkan aku untuk di shalati, aku merasa kelu ketika membayangkan Malaikat kembali berseru padaku :

~ “Wahai Rini, engkau akan di shalati dan Bersiaplah karena semua perbuatan yang telah kau lakukan akan kau saksikan kembali !”

~ “Bersiaplah-Bergembiralah bila selama ini kau tenggelam dalam amal kebajikan!.. tapi betapa kkasihan dirimu jika terbenam dalam penderitaan bila selama ini kau tenggelam dalam lumpur dosa”

Aku menangisssss membayangkan video kehidupanku dahulu mungkin kelam..

Aku kembali dalam imajinasiku, aku berada di bibir liang kubur, siap dibenamkan dalam perut bumi, apa yang bisa aku katakana ketika sekali lagi Malaikat akan berbisik tepat di telingaku :

~ “Wahai Rini, kedamaian apakah yang telah kau persiapkan untuk menempati rumah cacing ini (alam kubur) ???”

~ ”Wahai Rini, cahaya apakah yang kau bawa untuk menempati ruang gelap gulita ini ?”

~ “Wahai Rini, teman manakah yang akan kau bawa menemani penantian begitu panjang inii??”

Akku tak mampu lagi untuk tersenyum ketika aku semakin membayangkan diriku di lubang peristirahatan terakhir di bumi , suara itu kembali hadir dan berkata :

~ “Wahai Rini, dulu engkau bisa tertawa dan bersuka ria kapanpun,, masihkah saat ini keceriaan yang kau miliki? Atau sudah tenggelam dalam derita nestapa?..”

~ “Wahai Rini, Dulu kau mengumbar suaramu, kau begitu angkuh mengacuhkan aku yang selalu berada diisampingmu. Kini masihkah engkau miliki suaramu itu?? Atau kau sudah terbenam dalam bayangan derita yang tiada akhir?”

“Lihatlah ketika kau sudah terhimpit bumi sendirian, tak ada sanak saudara yang mengantarmu, menungguimu, bahkan menunggumu.. mereka meninggalkan batu nisan,. Akan berapa lama keluarga, sahabat, tetangga mu mengingatmu dalam keseharian mu setelah kau tiada..”

#@#$%%$# Aku terbangun dari imajinasi kematianku, seolah aku baru saja berjalan-jalan di jalan kematianku yang cepat ataupun lambat aku akan mengalaminya…

Kidung istighfar tak henti-henti aku lafadzkan “Astagfirullahaladziim.. Inna sholati wanuusuki wama yahya, wamma mati Lillahirobbil’alamiin (Sesungguhnya shalatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Illahi Robb- Allah yang Maha Pencipta)”

# Maafin semua kesalahan ku yaaaaaahhh apabila ada yang merasa terzholimi oleh sikap dan tingkah laku diriku ini.. Salam Sayaang Selalu#

Nb: namanya ku ganti dengan nama diriku sendiri..


sumber: ~Imajinasi Kematianku~

12 Comments (+add yours?)

  1. pandi diary kehidupan
    Apr 12, 2012 @ 21:24:18

    ko namanya sama ama cwe yg selama ini w cari yg 4 thn silam mnghilang

    Reply

  2. Nikyota Ragumi
    Apr 12, 2012 @ 14:00:45

    Capat atau lambat kita pun akan dipanggil
    terimak kasih atas artikel ini ^_^

    Reply

  3. Molly Suladrena
    Jan 02, 2012 @ 01:12:41

    Lalu setelah itu saling berkunjung ke rumah sanak saudara, kerabat maupun handai tolan untuk saling bermaaf maafan.

    Reply

  4. sakrilegi
    Dec 24, 2011 @ 17:30:33

    “Warna-warni hidup, arah dan tujuan hidup, sikap menjalani hidup… Kitalah yg menentukan,,,”

    membaca itu kayak nya aku ama kamu paham ya rin pentingnya hidup, hhehe, jadi tak usah ku komentari lagi,

    aku ateis makanya tak terlalu peduli siapa yang nentuin apapun dalam diriku, yang ku tahu aku hidup , ya mesti ku jalani, dan aku tahu aku pasti mati, dua kenyataan itulah yang membuat keterbatasan diriku memahami semuanya makanya aku mencintai hidupku sepenuhnya

    Kurasa aku pernah denger hadist kalau kehidupan duniawi itu hanya hiasan semata.

    aku rasa itu tepat, tapi aku memiliki alasan tepat sendiri untuk memahami hadist itu, bahwa mungkin nabi SAW mu itu ingin nyampei, paling tidak buatku..

    bahwa “seumpama hiasan, maka kita memperlakukan hidup layaknya lukisan di dinding rumah, ia dijalani semestinya sesejati hakikat hiasan”

    artinya hidup itu bagaikan gelang perhiasan. Perhiasan yang baik bagiku adalah perhiasan yang bukan di pamerkan melainkan di jaga disimpan di prgunakan sebaiknya selayaknya harta yang takut hilang dan tak berarti…

    dan Hidup mesti berarti

    Reply

    • rhinie
      Dec 26, 2011 @ 22:19:32

      Kehidupan seorang manusia akan dianggap sebagai satu permainan dan senda gurau belaka, ketika saat ia tidak memiliki tujuan yang mulia, yakni disaat ia menikmati kehidupan ini tanpa mentaati semua petunjuk yang telah ditetapkan Allah.

      Kehidupan dunia laksana hiasan belaka bila diukur dengan kehidupan akhirat yang kekal, kehidupan yang menjadi tempat kembali semua manusia, setelah mereka menghabiskan masa hidupnya di dunia ini dengan bermain dan bersenda gurau. Kehidupan dunia dan semua materi duniawi yang ada di dalamnya, baik itu harta, keturunan, wanita, emas dan perak, binatang tenak dan lainnya, hanyalah hiasan belaka dan tidak memiliki nilai yang berarti. Kesemuanya itu hanyalah sarana dan bukan tujuan.

      Amal sholeh dan perbuatan baiklah yang memiliki yang berarti dan mampu dijadikan satu tujuan.
      Sebagai orang yang hanya menghambakan dirinya untuk Allah, konsekuensinya adalah beriman kepada hari akhir (pembalasan). Keimanan inilah yang dapat membuahkan sikap untuk tidak terperdaya dengan kehidupan dunia yang penuh dengan hiasan dan senda gurau. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan :

      “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang tebaik perbuatannya” (QS. Al-Kahfi: 7)

      “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kalian serta berbangga-bangga dalam banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur dan di Akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaan-Nya. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadid : 20)

      Ayat di atas telah menerangkan bahwa kehidupan dunia di mana kita hidup dan menikmati berbagai kenikmatan, seperti makanan, minuman, jabatan, kekuasaan dan kemuliaan hanyalah perhiasan yang dibeli dan penuh dengan tipu daya. Banyak kerusakan yang bisa ditimbulkannya khususnya bila pemiliknya silau dengan perhiasan tsb. Kehidupan dunia hanyalah kehidupan yang semu. Kehidupan dunia hanyalah tipu daya bagi orang yang menjadikannya tujuan akhir hidupnya. Namun kehidupan dunia pun bisa dijadikan jembatan untuk mencapai kesenangan abadi di akhirat kelak.

      Maha benar Allah dalam segala firmanNYA, yang benar datangnya dari Allah dan yang salah datang dari pribadi saya sendiri,,

      -Kehidupan dalam pandangan Al Quran-

      Reply

      • pandi diary kehidupan
        Apr 12, 2012 @ 21:27:21

        ko nama km sama sich dgn wanita yg ku sayang yg 4 thn silam menghilang dia RINI km rini jga

  5. Angelina Rupalanite
    Dec 23, 2011 @ 07:12:34

    Gemuruh air terjun terdengar ketika kendaraan kami memasuki desa setempat, tampak pematang sawah dengan padi yang baru tumbuh terbentang.

    Reply

  6. sakrilegi
    Dec 13, 2011 @ 15:58:50

    wangi kematian yang harum
    kita sebenarnya tidak perlu takut mati, namun takut tak bisa berbuat selagi hidup..
    ah entahlah… hidup dan mati selalu lahir dalam sisi ruang dan waktu ini..
    menuju kematian yang sempurna adalah hidup dengan seutuhnya

    Reply

    • rhinie
      Dec 13, 2011 @ 16:50:43

      Allah lah yang menentukan hidup dan mati, namun Warna-warni hidup, arah dan tujuan hidup, sikap menjalani hidup… Kitalah yg menentukan,,,
      keep istiqomah.. ^__^

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: