Valentine Ini, Aku Ingat Kamu

Judulnya kontroversi banget yach? hehe emang sengaja😛

Adalah seorang pemuda gaul, namanya Dion, kaya, tampan, aktivis kampus, playboy cap duren tiga, yang mencoba menaklukkan hati si gadis jilbaber, Aira.

Tepat di tanggal 14 februari, sekitar jam 7 malam, Dion datang ke rumah Aira.
‘Ada apa, Dion..?’ tanya Aira tanpa basa dan basi.

‘Ehmmm, jangan sinis gitu donk angel, cantiknya ilang deh..’ jawab Dion, mulai dengan jurus pertama: Gombal Mukiyo.

‘Katakan keperluanmu, atau kamu pulang..!’ Aira mengancam,wajahnya serius.

‘Oke..oke..’ Dion mengalah (Biasanya, kalau cewek tegas, si cowok akan menaruh hormat). ‘Jadi begini Angel…’

‘Stop. Namaku Aira, bukan Angel..’ Aira memotong.

‘Iya Angel eh Aira. Ehmm aku kesini membawa sesuatu untukmu..neh buat kamu’,

Dion menyerahkan sebuah kotak agak besar yang dibungkus rapi warna pink, lengkap dengan seutas pita juga warna pink, terikat menyilang dibagian kotak sebelah atas.

‘Apa ini..?’ tanya Aira tak mengerti.

‘Buka aja deh..’ Dion menjawab degan senyum lebar. Ada binar-binar dimatanya.

Dengan cepat Aira membuka kotak itu. Dan isinya adalah….: Sekotak cokelat berbentuk hati, sekuntum bunga mawar putih, dan selembar kertas warna merah jambu dengan kata-kata puitis terangkai disitu.

‘Itu semua buat kamu, Aira. Aku ingin kamu menjadi istriku..’

‘Apaaa..??!’ kalimat Dion itu bagaikan bom yang meledak digendang telinga Aira.

‘Kenapa? kamu terkejut ya? bukankah kamu pernah bilang tidak mau pacaran dengan siapapun? kamu hanya mau kepada laki-laki yang berani datang kepadamu dengan gentle untuk menjadikanmu istrinya. Nah, kini aku datang untuk menjadikanmu istriku. Dan barang-barang itu, adalah bukti cintaku padamu, tepat di hari valentine ini…’.

Ada bunga-bunga indah dimata Dion. Dia yakin Aira tidak akan menolaknya. Puluhan gadis cantik mengantri menjadi pacarnya tapi semua dia tolak. Tapi apa yang kemudian didengar dari mulut Aira malah membuat Dion terkapar lemas seketika.

‘Dion..silahkan bawa kembali barang-barangmu. Sudah kubilang aku tidak bgitu suka bunga, tidak juga suka puisi, tapi untuk cokelatnya ini…maaf aku ambil yaa, mubadzir kalo nolak rejeki..’ (hayahh😀 ). Aira tersenyum lalu memindahkan coklat itu ke tangannya.

‘Lalu permintaanku tadi bagaimana..? kamu mau menerima coklatku tapi tak mau menerima cintaku, itu tidak adil’ tanya Dion protes.

‘Karena aku tidak doyan bunga dan puisi, tidak enak dimakan. Cokelat ini tentu lebih enak, dan kamu belinya dengan uang halal kan?’

‘Tentu saja dengan uang halal. Kamu curang Aira,tidak ada bedanya dengan cewek-cewek di kampus kita, matre..’ Dion berkata dengan nada emosi.

‘Baik. Kamu ingin menjadikanku istrimu? kalau begitu aku minta syarat..’

‘Apa itu, katakan cepat..!’ kata Dion tak sabar. Sekeping harapan muncul lagi dihatinya yang tadi sempat padam.

‘Syaratnya gampang kok. Datanglah lagi kemari tahun depan, tepat tanggal hari ini juga..14 februari…’ kata Aira.

‘Okelah kalau bgitu,aku pasti datang dan aku sabar menunggu. 1 tahun lagi gak lama..’ Dion semangat.

‘Eits..aku belum selesei ngomong, yang aku katakan tadi cuma syarat waktu jatuh temponya. Sedangkan syarat utamanya adalah…saat kamu datang nanti, kamu harus membawa hafalan surat Ar-Rahman dan kamu bacakan dihadapanku. Dan jangan lupa, bawa juga seperangkat alat sholat dan sebuah mushaf Alqur’an. Kamu sanggup..?’, Aira mengakhiri ucapannya.

Dion melongo mendengar syarat yang diminta Dion. Lalu Aira melanjutkan,

‘Kamu boleh datang tahun depan, atau 2 tahun lagi, tapi tak boleh lebih dari 3 tahun. Jika kamu tidak datang atau kamu datang tapi tidak dengan syarat yang aku minta, maka lebih baek kamu cari orang lain untuk menjadi istrimu..!’ Aira mengakhiri ucapannya.

‘Baiklah Aira. Aku terima syaratmu. Tunggu aku 1 tahun lagi..!’ jawab Dion mantap,dan permisi pulang.

——*****—–*****——
satu tahun kemudian………….
——*****—–*****——

Hari ini Dion mengendarai motornya menuju rumah Aira, seorang gadis manis teman kuliahnnya yg telah membuat hatinya kebat-kebit dalam beberapa tahun ini. Dion masih dalam senyumnya diatas motor dengan hati berbunga-bunga dan wajah yang segar. Hari ini, tanggal 17 februari, 3 hari lebih lambat dari tanggal yang telah dijanjikan Aira bahwa ia akan menerima …lamarannya seperti janji Aira. Tapi tak apa, karena Aira memberinya batas waktu hingga 3 tahun. Masa karena cuma terlambat 3 hari saja Aira tak bisa memaklumi, pikir Dion. Dion juga sudah memenuhi syarat Aira, hafalan surat Ar-Rahman, seperangkat alat sholat dan sebuah mushaf Alquran telah ia persiapkan.

Dion teringat betapa beratnya dalam satu tahun terakhir ini perjuangannya dalam menggapai cintanya kepada makhluk indah bernama Aira. Sejak penolakan cinta Aira setahun lalu, begitu pulang dari rumah Aira, Dion sudah bertekad bulat akan berubah. Dirinya telah ditempa dengan tarbiyah di sebuah pondok pesantren di Bandung. Dan hasilnya pun tak sia-sia, kini gaya playboy nya, cara berpenampilan, dan tutur katanya jauh berbeda dari dion setahun yang lalu. Dion yang kini telah menjelma menjadi sosok seorang pemuda islam yg kata orang2 bilang..seorang ikhwan. ^.^

Seminggu sebelumnya ia sudah sholat istikharah berkali-kali, sudah bepuluh-puluh malam ia bangun untuk sholat malam memohon doa kepada Allah akan niat baik dengan keputusan melamar Aira. Dan hari ini ia merasa sudah diberikan jawaban oleh Allah. Bahwa cintanya harus dipertanggungjawabkan dengan segera, tidak boleh ditunda-tunda lagi karena bayangan gadis itu yang selalu hadir di matanya akan semakin mengotori hatinya. Niatnya untuk tetap menjaga kesucian hati dan jasadnya lahir batin tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

——*****—–*****——

Dirumah Aira..17 februari 2012, siang yg panas.

Aira tengah terbaring dengah gelisah dikamar tidurnya. Berat bagi Aira untuk memutuskan sebuah keputusan penting dalam hidupnya,. Aira berpikir, betapa tersiksanya Dion selama ini akan sebuah janji yg telah ia syaratkan setahun lalu. Menanti…ya…menanti sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan tentang masa depan, tentang hari-hari yang akan terlewati dan tentang jalan-jalan ilahi. Dan semuanya adalah proses, ya…. Proses yang harus dilewati. Semoga Dion benar2 berubah., doa Aira dalam hati.

“Assalamu ‘alaikum..”, tiba2 sebuah suara terdengar masuk ke telinga Aira.

Aira bangkit dari ranjangnya, menuju sumber suara dikamar tamu. Kebetulan hari ini Ayah dan ibunya sedang tidak ada dirumah karena sedang ada acara pertemuan keluarga diluar kota.

“ wa’alaikum salaam…” balas Aira. Aira membuka pintu. Dan melihat sosok Dion tersenyum ramah. Lalu mempersilakan Dion masuk kedalam, dan mereka duduk berseberangan di kursi yg berbeda.

‘Ayah ibumu kemana Aira..? tanya Dion singkat.

“Kebetulan lagi ada acara dirumah paman. Kenapa..?”

“Gawat, kita gak boleh begini. Pembantumu ada..?” dion bertanya lagi.

“Ada, dibelakang..kamu ada perlu sama saya atau sama pembantu sih..?”, seperti biasa, kalimat tegas Aira langsumh meluncur keluar dari bibirnya. Tapi jawaban yang didengar Aira dari mulut dion membuat ia tak mampu menyembunyikan malunya. Wajahnya memerah seketika.

“Maaf Aira., kita tak boleh berdua seperti ini. Bukankah agama kita melarangnya? Tolong panggilkan pembantumu menemani pembicaraan kita. Aku tidak keberatan pembicaraan kita ini didengar orang lain, karena aku rasa ini lebih aman..” .

Aira menunduk malu. Yaa Allah, bagaimana aku bisa melupakan hal ini? Batinnya. Aira sangat2 malu, tapi sekaligus ada rasa heran dan kagum kepada sosok Dion. Baru setahun mereka tak bertemu, tapi Dion benar-benar telah berbeda.
Lalu Aira memanggil pembantunya, mbok inah, dan menemani mereka dalam satu ruangan.

Dion langsung melanjutkan.
“Afwan Aira, tak perlu aku basa basi. Aku datang kesini untuk menagih janjimu kepdaku setahun lalu, dan aku datang dengan membawa segala syarat yg pernah kau minta..” Dion lalu membuka tas ranselnya yg sudah ia persiapkan dari rumah. Mengeluarkan isinya dan meletakkan diatas meja didepan Aira.

“Aira..ini seperangkat alat sholat dan sebuah mushaf Alquran sebagai syarat yang kau minta dulu. Dan sekarang..aku siap untuk membacakan hafalan surat Ar-Rahman kepadamu. Apa kamu sudah siap menyimaknya….?”

Aira diam tak menjawab. Ia ingin menangis, sungguh ia ingin menangis. Dua butir kristal bening itu telah mengambang disudut matanya hampir jatuh. Ia mengusapnya dengan segera.

‘Aira, kamu sudah siap…?” pertanyaan Dion membuat aira terkesiap.
“Yaa..aku suap. Bacakanlah untukku..!” jawab Aira singkat.

Dan ayat-ayat suci dari surat Ar-Rahman meluncur lembut dari mulut Dion. Memang bacaannya tidak sebagus seorang Qiroah ternama, tapi lantunannya cukup membuat hati Aira mengharu-biru. Ayat demi ayat telah terucap, Aira mendengarkan dan menyimak dengan hati yang menggeletar. Ketika bacaan Dion sampai pada ayat “Fabiayyi Alay rabbikumma tukadzibbaan” Aira tiba-tiba berseru agak nyaring..

“Stop..hentikan sebentar Dion !” suara membuat Dion menghentikan bacaannya.
“Kenapa Aira…?” tanya Dion heran.
“Aku ingin menangis…ayat itu…” Aira tak sanggup meneruskan ucapannya. Aira benar-benar telah larut dalam tangisan. Dion memahami apa yg dialami Aira. Ia kembali mengulang-ulang ayat itu beberapa kali sambil memejamkan mata, meresapi maknanya. Dan tak terasa dion pun ikut menangis. Mbok inah yang tak paham apa-apa ikut menitikkan airmata.

Yaa..diruangan itu, mbok inah menjadi saksi…gema tangis Dion dan Aira mengantar mereka menemukan jalan Tuhannya. KeagunganNya, Kebesaran kekuasaanNya. Dua anak manusia yg hanyut dalam lantunan kedahsyatan ayat suci sang Rabbul Izzati.
Setelah beberapa menit berlalu mereka menghentikan tangisnya.

“Lanjutkan bacaanmu, dion…” Ucap aira.
Dion menghela nafas sejenak da nmengangguk. Lalu melanjutkan hafalannya sampai kepada ayat terakhir.
Untuk beberapa menit setelah Dion selesai membacakan surat itu, Aira masih dalam diamnya. Mencoba mengatur ritme detak jantungnya dan gemuruh hatinya yang tak menentu. Setelah berhasil menguasai hatinya ia berucap..

“ Terimaksih Dion. Terimakasih…. kamu sudah mampu melaksanakan syarat yg kuminta. Dan aku bangga padamu. Tak ada alasan lagi bagiku untuk menolakmu seperti setahun yang lalu. Tapi sebelumya, Aira mohon maaf. Bukannya Aira tidak percaya denganmu. Bukan maksud Aira ingkar janji..Aira yakin dengan niatmu, begitupun juga keikhlasanmu. Tapi ada beberapa hal yang ingin Aira sampaikan..” Aira kembali menahan suaranya.

“ Jazakillah ukhti.Tafadhol!” jawab Dion singkat.

“Kamu paham dengan salah satu fikih dakwah..?” tanya Aira sangat hati-hati dan suara pelan. Ia takut membuat Dion tersinggung.

“Yaa, sedikit banyak aku mengerti. Lantas…?” Tanya dion.

“ Begini..seandainya ada dua akhwat yang juga sama-sama shalihahnya, mengharapkan Dion segera mengkhitbahnya gimana menurutmu..? akwat pertama umurnya 22 tahun, masih kuliah, namun kedewasaannya mengalahkan umurnya. Dan yang kedua, 30 tahun, pekerja keras. Nah kondisi akhwat pertama masih aktif dan intensif liqo’nya, tapi yang kedua kurang intensif bahkan sangat susah. Karena beban pekerjaan yang kadang memaksanya tidak mengikuti liqo pekanannya. Dia ini sudah 6 kali melewati masa ta’aruf dengan beberapa ikhwan, tapi akhirnya tidak jadi karena masalah umur yang membedakan keduanya, rata-rata ikhwan yang pernah ta’aruf dengannya mengundurkan diri karena jarak umur yang tak sesuai dengan kriteria mereka. Nah mana yang akan kamu dahulukan…?”.

“ Bismillah, inyaAllah aku mementingkan dakwahnya, aku akan pilih yang kedua untuk menjadi pendampingku, karena dia lebih membutuhkan dari yang pertama. !”

“ Walaupun akhwat yang pertama adalah yang kamu cintai?”.

“ Emmmm…insyaAllah aku tetep mencoba istiqomah” ada sedikit keraguan dalam jawabannya.

“ Alhamdulillah. Jika begitu Aira mantap dengan pilihan ini. Dan ini insyaAllah yang terbaik. Dion tahu kan mbak Ratih? Staff administratis Tata Usaha di Kampus kita?”. sampai di sini Aira berhenti.

“ Iya aku masih inget. Ada apa?” jawab Dion, sedikit keheranan.

“ InsyaAllah Aira siap dengan sepenuh keyakinan menikah denganmu. Tapi sungguh sangat egoisnya Aira, jika Aira menikah sementara ada saudara kita yang lebih membutuhkan, yang harus kita dahulukan, yang butuh dukungan, merana dalam penantian tanpa kepastian. Yang mulai goyah karena tekanan keluarga dan lingkungan. Yang mulai menurunkan standar criteria ikhwan calon suaminya karena usia yang semakin menua. Yang hampir kehilangan pegangan jika kita tidak segera meraihnya…
Dion…Aira ingin, kamu adalah ikhwan itu. Yang sedia mengulurkan tangan, meraih jari jemarinya, meneguhkan langkah perjuangannya. Tempat mencurahkan kasih sayangnya. Memberikan bahunya tempat menyandarkan kepalanya ketika penat menghampirinya.!

“ Tapi….” Dion seakan sesak karena gugup tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

“ Bagaimana denganmu? Bagaimana dengan janjimu sendiri Aira…?”.

“ Bukan maksud Aira ingkar janji, sungguh bukan. InsyaAllah Aira ikhlas dan bahagia bisa berbagi kebahagiaan dengan saudara sesama muslimah. Semuanya telah Aira serahkan pada Allah, berat memang sebenarnya, karena bagi Aira kini tak ada alasan menolak ikhwan sepertimu. Tapi Aira yakin, Allah akan memudahkannya, untuk Aira dan kamu sendiri”.

“ Tapi bagaimana aku bisa mencintainya sedang aku belum mengenalnya..??”

“ Afwan Dion, seharusnya pertanyaan itu tidak kamu tanyakan padaku, tapi pada dirimu sendiri. Karena apa dan karena siapa kamu menikah..? Ingatlah janji Allah “ Barang siapa menolong agama-Ku, maka Aku akan menolongnya”.

“ Asytaghfirullahal ‘adhiim”. Dan lirih Dion mohon ampun.

“Tapi aku hanya mencintai kamu, Aira…! kamu gak bisa mempermainkan perasaanku seenaknya seperti ini..” suara Dion terdengar agak meninggi.

“ Cinta..cinta akan tumbuh ketika kita mencintai agama-Nya, dakwah dan jihad di jalan-Nya, bersama-sama!. Yakinlah Allah akan menumbuhkannya, jika kamu mengupayakannya! Istikharah-lah kembali, moga Allah menunjukkan jalan dan keputusan terbaik bagi kita.” Panjang lebar Aira meyakinkan Dion.

“Kamu egois Aira. Kamu hanya mementingkan perasaanmu, dan perasaan orang lain diluar kesepakatan kita, tapi kamu tak perdulikan tentang perasaanku..Lalu mana janjimu? Janji yg kamu syaratkan padaku dulu…? mana..?” suara Dion kini benar-benar mulai meninggi. Ia mulai tidak bisa mengontrol emosinya.

Aira memaklumi bagaimana perasaan Dion. Ia rela dimarah-marahi oleh Dion. Rela dikatakan mengingkari janjinya.
“Dion..biarlah Aira yg menanggung dosa atas terabainya janji ini kepadamu. Aira meminta maafmu dan memohon ampun kepada Allah atas tak tertunanainya janjiku. Tapi satu hal perlu Dion ketahui, tidakkah kamu memetik hikmah dari semua ini…?” Aira diam sejenak.

“Apa maksud ucapanmu itu? Aku tak mengerti..?” tanya Dion. Volume suaranya masih seperti tadi, tinggi dan nada sinis.

“Dion..seandainya setahun lalu kamu tidak kesini dan menyatakan cintamu padaku, seandainya dulu aku tidak memberimu syarat-syarat tersebut, apakah kamu akan menjadi seperti ini? Apakah kamu akan menjadi seorang Dion yg paham akan islam dan memahami esensi dari sebuah fikih dakwah..?”

Dion tak menjawab, ia menunduk. “Mungkin tidak…” jawab singkat itu akhirnya yang keluar dari mulutnya.

Aira tersenyum. Lalu melanjutkan,
“Karena itu bersyukurlah Dion. Hari ini kamu memang tidak mendapatkan cintaku, tapi kamu telah mendapatkan cinta dalam bentuk yang lain, cinta yang sebenar-benarnya cinta, yaitu cinta Allah..berupa hidayahNya. Pernyataan cintamu kepadaku setahun lalu adalah jalanmu untuk menjemput hidayah itu. Seandainya dulu kamu tidak menyatakan cinta padaku, maka kamu akan tetap menjadi Dion yang dulu, yang suka mempermainkan hati perempuan, yang pacarnya bisa berganti-ganti dalam setiap minggu seperti berganti baju, yg sama sekali tidak mengenal apa itu agama islam, tidak bisa mengaji, tidak kenal yang namanya Alquran, apalagi apa itu sholat……” Aira menjelaskan panjang lebar.

Dion menunduk semakin dalam. Air mukanya jelas menyiratkan kesedihan juga penyesalan yang amat sangat. Bayangan masalalunya kembali terekam sejenak dikepalanya.

“ Dion…terimaksih untuk bacaan alquranmu, hafalanmu, mushaf Alquran ini dan perangkat sholat ini. Maaf, Aira tidak bisa menerimanya. Barang-barang ini lebih pantas kamu berikan kepada mbak Ratih sebagai maharmu untuknya. Dan hafalan surat tadi…semoga menjadi tambahanmu dalam memberikan mahar untuk beliau, mbak ratih. Hampir tidak ada dijaman sekarang, seorang ikhwan mengkhitbah seorang wanita dengan bonus hafalan surat Ar-Rahman. Maka berbanggalah Dion. Percayalah…surga itu ada didepan matamu kini. Aku melihat cahaya surga itu di matamu…..?”

“Sekarang jawablah satu pertanyaanku, kamu ingin menikah karena Allah atau karena sayarat yg aku ajukan dulu…?” tanya Aira hati-hati.

Dion menatap Aira sebentar, lalu menjawab:
“Astaghfirullah..kamu benar Aira. Dulu aku berniat melamarmu karena syarat yang kamu ajukan.,bukan karena Allah. Seandainya kamu tak mengajukan syarat itu, aku tak mungkin menjadi seperti sekarang ini. Aku menyadari kekhilafanku. Syukron..jazakillah ukhti atas semuanya. Sungguh pelajaran yang berharga baru untukku.. “.

“ Wa iyyakum. Dion, menikah dengan orang yang kamu cintai adalah pilihan, tapi mencintai orang yang kamu nikahi adalah keharusan. Pilihlah yang kedua, moga Allah melimpahkan barakah-Nya”.! Pesan Aira kepda Dion untuk kesekian kalinya.

“ Aamiin. Insyaallah. Tapi kita masih tetap berteman kan?”. Giliran Dion mengajukan pertanyaan.

“ Kita sesama muslim adalah saudara dan kita tetap berteman. Tapi ada batas-batas syar’i yang harus kita patuhi.” Jawab Aira tegas.

“ Pasti ya ukhti. Jazakillah “ ucap Dion pendek.

“ Wa iyyakum…” Aira tersenyum senang.

“ Kalau begitu, besok kamu harus menemaniku ke rumah mbak Ratih. Aku akan melamarnya. Eh tapi gak perlu ta’aruf lagi kan…? kan kamu sudah merokemdasikan…?” tanya Dion menggoda. Ada senyum kini dibibirnya, tidak cemberut lagi seperti tadi.

“InsyaAllah….kita kesana besok bersama-sama” jawab Aira.

“Baiklah…aku pamit pulang Aira. Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..”.

Malam harinya Aira benar-benar sulit memejamkan mata. Bayangan tadi siang akan percakapannya dengan Dion bagaikan slide-slide kehidupannya yang berjalan dan menari-nari dikepalanya. Terekam jelas di memori otaknya.

“Ah..Dion..”, gumam bibir Aira, “adalah munafik jika kukatakan aku tidak mendambakanmu.
Tapi mbak Ratih lebih membutuhkanmu daripada aku.
Yaa Allah, ampunilah aku atas terabainya sebuah janjiku kepada Dion.
Jika itu memang sebuah dosa, maka aku tahu rahmatMu lebih besar daripada murkaMu.

Engkau Maha Tahu yang ada dalam hati hambaMu ini..
Semua aku lakukan untuk kebahagiann saudaraku yg lain,
Apakah menjadi sebuah dosa jika aku mendahulukan saudaraku daripada kepentingan diriku sendiri…?

Allah..Engkau Maha tahu yang terbaik lebih dari apa yg hamba mau.
Berikan keberkahan dan ridhoMU kepada saudaraku Dion, dan mbak Ratih.
Jadikan mereka berdua sebagai hambaMu yang akan saling mencintai dikala dekat, saling menghormati dikala jauh, saling mengingatkan untuk kebaikan dan ketakwaan, serta saling menyempurnakan dala mkekurangan dan beribadah..
Aamiin..Aamiin yaa Rabbal Alamiin.

Lalu Aira bangkit sejenak dari ranjangnya, mengambil buku diarinya, dan menuliskan sesuatu disitu:

Allah..PadaMu ku titipkan cintaku. PadaMu ku titipkan rinduku..
PadaMu pula ku pasrahkan raga ini, meskipun aku masih dalam tahap belajar untuk mencintaiMu.
Tanamkan dalam diriku kesabaran, ketulusan, dan rasa cinta yang akan datang dariMU, dan akan bermuara kembali kepadaMU.

Bagiku cukup Engkau dihatiku, yaa Allah..
Dan aku yakin , Engkau akan mempertemukan aku dengan hambaMu yg lain..
Yang lebih baik dari pada Dion.
Dan seseorang itu..siapapun dia…
Biarlah takdirMu jua yang akan mempertemukan kami,
Jika bukan disini didunia ini, tapi di surgaMu yang tinggi..

17, februari 2012..
Untuk saudaraku: Dion Satya Amtaja..Valentine Ini, Aku Ingat Kamu !
Aira menutup buku diarynya. Dan beranjak tidur.

—TAMAT—TAMAT—TAMAT–

Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Banyak sayang dan cinta
Wassalamualaikum..
————————

by: Ifta Nanda

1 Comment (+add yours?)

  1. Daffa Nur Rafie Alam
    Nov 29, 2013 @ 18:47:00

    🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: