JODOHKU


Adik hendak menikah


“sudahlah, Lan. Kamu nikah dulu juga enggak apa-apa!” Kataku pada Lani.

Lani mau menikah. Orang tua kedua belah pihak sudah setuju. Namun orang tuaku menyuruh Lani menunda sampai aku lebih dulu menikah. Semula Lani setuju. Namun setelah setahun lebih berlalu dan aku belum nemuin jodoh, dia mulai resah.

“Aku sih enggak masalah, mbak. Tapi bapak ibu. Mbak tahu sendiri kan mereka berkeras enggak mengizinkan,” kata Lani.

“Kapan sih kamu nikah?” tanyaku sambil menatap adikku.

“Pengenku tahun depan, Mbak. Sekalian bisa pindah ke rumah kami,” kata Lani terang.

“Doain tahun ini aku dapat jodoh dan nikah,” kataku pelan.

“Tapi mbak Sinta juga mesti usaha, cari jodohmu,Mbak! Jodoh juga enggak datang sendiri dari langit,” kata Lani.

Aku hanya tersenyum. Tidak mudah melupakan dia. Aku sendiri tidak tahu di mana sosok itu berada. Tapi aku sungguh tidak bisa melepaskan bayangannya dari benakku.

Cinta Masa Lalu


“Kamu ngebingungin!” seru Vina, sahabatku padaku.

“Ngebingungin gimana?”

“Kenapa kamu enggak milih aja satu dari lelaki yang ngedeketin kamu? Enggak ada orang yang sempurna Sin. Pilih satu dong!”

“Aku enggak bisa”

“Kenapa?”

“Hatiku bukan untuk mereka.”

“Lalu untuk siapa?” Tanya Vina kudengar penasaran.

“Sulit kujelaskan,” kataku pelan. “Kamu enggak kenal.”

“Dia mencintaimu?”

“Itu yang aku enggak tahu.”

“Jadi kamu jatuh cinta pada orang yang enggak kamu tahu apa dia suka kamu apa enggak? Oh Tuhan!” seru Vina sambil melotot padaku.

“Mungkin”

“Kamu enggak coba cari tahu soal dia?”

“Aku enggak terlalu dekat sama dia waktu kuliah. Setelah Lulus dan kerja, aku enggak pernah ketemu.”

“Kenapa kamu enggak ngelupain sajah?”

“Aku juga enggak ngerti. Aku ngerasa dia itu jodohku. Padahal, sekarang aku enggak tahu apa-apa soal dia.”

“Aneh,” kata Vina pelan.

“Kamu ada usul?” tanyaku.

“Cari dia. Ada temannya yang kamu kenal kan? Hubungi dia, siapa tahu bisa membantu.”

“Gimana kalau dia sudah punya calon istri, atau malah sudah menikah?” tanyaku. Aku sudah lama banget tidak ketemu hasan. Mungkin saja dia sudah nikah.

“Kamu toh belum tahu apa-apa soal dia,” bantah Vina. “Apa aku boleh bantu?”
Aku menggeleng. “Aku akan cari sendiri.”

Vina mengangguk. “Oke”. Tapi kamu juga mesti ngebuka diri untuk laki-laki lain. Siapa tahu yang kamu cari itu ternyata bukan jodohmu,” pesan Vina sebelum berlalu.
Kuputuskan untuk mencari Hasan. Sayang, sampak aku lelah belum juga kutemukan sosoknya. Lelaki sholeh dengan wajah teduh yang tidak pernah hilang dari hati dan benakku itu, seperti lenyap ditelan bumi. Tidak ada seorang pun yang tahu di mana dia. Beberapa teman yang kuanggap tahu dan kenal dengan Hasan, tidak tahu pula di mana Hasan. Alamat rumahnya yang kuperoleh dari petugas administrasi kampus, sudah ganti pemilik. Pemilik yang baru tidak tahu ke mana keluarga Hasan pindah.

“Sinta, ntar malam dating loh ke pestanya Imel! Banyak jomblo juga loh!” seru sari padaku.

“Yo!” kataku singkat.

Malam harinya aku datang ke pesta ulang tahun Imel. Pestanya meriah sekali. Banyak lelaki yang sengaja dikenalkan imel padaku. Dari perkenalan itu, berlanjut dengan pertemuan demi pertemuan. Namun selalu, aku merasa ada yang tidak cocok. Selera makannya yang beda jauh, lelaki pelit dan penuh perhitungan, belum lagi ada yang tidak peduli soal agama. Aku sampai sedih dan menghentikan kebiasaan itu. Capek dan sungguh melelahkan.

Kini aku mulai membongkar kembali buku almamater dan menghubungi beberapa teman lelaki. Satu dua memang masih lajang, beberapa sudah nikah. Hubungan dengan teman-temanku yang masih lajang pun bisa berlangsung. Namun aku tidak cocok dengan mereka.
Bahkan ada salah seorang diantara mereka yang terang-terangan bilang, tidak ingin punya istri yang penghasilannya jauh di atasnya. Tentu saja aku syok mendengar itu.
Sempat terpikir olehku kekayaan dan keberhasilanku, jadi penghalang untuk menemukan jodoh. Laki-laki pasti tidak akan mau kalah dari istrinya. Tapi, apa iya aku harus ngelepasin begitu saja karir yang kurintis bertahun-tahun dengan susah payah? Aku hanya bisa menangis sedih.

“Baiklah kamu ikutan kontak jodoh aja, Sin. Sebutin criteria kamu dan pilih yang paling cocok. Lalu ajak ketemuan,” saran Vina

Aku pun mengikuti rubrik kontak jodoh dari beberapa harian terkemuka. Surat yang masuk pun cukup banyak. Mereka juga ingin bertemu denganku. Namun kembali, kegagalan harus kutemui. Tidak ada yang mau serius, setelah tahu kedudukan dan kesuksesanku. Aku makin terpuruk. Niatku untuk mencari Hasan kembali menggebu. Sayangnya aku tidak tahu mesti mencari ke mana.

“kenapa kamu masih ngotot nyari dia, Sin?” Tanya Vina.

“Aku juga enggak tahu. Kalo dia sudah nikah, enggak masalah. Kalo belum, aku akan bilang perasaanku. Dulu aku ngejauh darinya, karena aku khawatir kalo buru-buru nikah, aku enggak bisa bantu orang tua dan adik-adikku, Vin. Sekarang tidak ada lagi, yang jadi bebanku. Setidaknya kalo dia nolak aku, aku sudah siap. Aku akan cari orang lain. Tapi aku harus ketemu dia dulu,” kataku bersikeras.

Vina memelukku. “Sabar ya Sin. Allah pasti ngasih yang terbaik untukmu!”

Siang itu, aku termenung di ruangan kerjaku. Aku merasa tidak ada harapan. Ke mana kucari, jodoh itu belum juga kutemukan. Aku meraih telepon dan menghubungi rumah.

“Bu, kenapa ibu enggak ngizinin Lani nikah dulu? Sinta engga keberatan,” kataku pelan, khawatir ibuku marah.

“Sinta, kamu itu lebih tua. Sudah seharusnya kamu yang menikah lebih dalu”.

“Tapi Bu, Sinta belum punya calon. Lani dan calonnya sudah siap nikah. Ibu tahu kan, nunda-nunda pernikahan mereka bisa berakibat buruk?” tanyaku.

“Ibu tahu. Persoalan kamu itu memang berat,Sinta. Tapi Ibu yakin, itu enggak akan lama. Kamu sendiri yang harus menyelesaikan”.

“Maksud Ibu?” tanyaku tidak mengerti.

“Kamu sudah mencari-cari jodohmu, ibu yakin itu. Tapi usahamu belum total, Nak. Kamu hanya menggantungkan usahamu pada kemampuan lahir. Kamu belum meminta pada Allah. Shalat tahajudmu mungkin yang kurang.”

Aku tertegun mendengar perkataan ibuku. Hatiku langsung bergetar hebat. Aku seperti langsung diingatkan pada sesuatu yang belakangan ini nyaris kutinggalkan. Shalat malam, shalat tahajud. Sejak kesibukkan kerjaku yang bikin aku harus sering pulang malam, aku memang jadi lalai melakukan tahajud.
Gimana aku bisa shalat, kalo pulang kantor sudah jam satu pagi? Tiba di rumah ingin langsung tidur, pagi shubuh maksain diri bangun untuk shalat dan kemudian nerusin tidur sampai jam Sembilan pagi.

“Sinta? Kamu masih di sana, Nak?” Tanya ibuku mungkin karena lama tidak mendengar suaraku.

“Iya bu. Sinta masih dengar. Sinta dengerin nasehat ibu,” kataku pelan.

“Sebaiknya kamu perbanyak puasa sunah, perbanyak sedekah, dan shalat tahajud, Nak. Ibu yakin, kamu sudah bertemu dengan jodohmu. Tapi waktunya belum pas.”

“Doain Sinta kuat ya Bu!” seruku kemudian.

“Tentu, ibu pasti akan mendoakan untuk kebaikanmu, Nak,” kata ibuku lagi sebelum kemudian hubungan telepon terputus.

Aku masih tertegun di mejaku. Pembicaraan dengan ibuku terasa menohok nuraniku. Aku menatap tumpukan kerjaanku. Aku yakin, hari ini pun aku akan kembali pulang larut malam.

Aku menggelengkan kepalaku. Aku harus mengatur waktu agar bisa pulang lebih awal. Langsung kutulis daftar prioritas hari ini agar aku tahu persis apa yang perlu kurusi secepatnya.

Untuk sementara aku matikan hp-ku dan serius bekerja. Beberapa buku yang tinggal memeriksa bagian akhirnya, kini satu persatu mulai kuselesaikan.

“Turunkan naskah ini, Wi! Siap untuk masuk cetak! Kabari editornya untuk ngecek soal desain covernya!” seruku sambil menyerahkan empat naskah yang sudah kuperiksa. “Ada telpon untuk saya?”

“Iya, sudah saya catat, Mbak!” seru Dewi, “Bu Nila minta ketemu, waktunya terserah Mbak Sinta minggu ini!”

Bu Nila adalah salah satu pemegang saham di perusahaan tempatku bekeja. Akupun mulai menelepon orang-orang yang ada di daftar Dewi. Tidak lebih dari setengah jam, aku sudah menyelesaikan tugasku.

Sembilan lewat dua puluh menit. Aku meletakkan naskah yang sudah kutandatangani di meja Dewi agar diturunkan untuk cetak dan member itahu editornya. Aku pulang dengan perasaan lega.

Malam itu, aku tidur lebih awal. Jam setengah tiga pagi aku terbangun karena bunyi jam weker. Rasanya berat untuk membuka mata. Namun karena merasa tidak ada lagi yang membantuku selain Allah, aku pun memaksakan diri untuk bangun. Kusingkirkan selimutku dan beranjak ke kamar mandi. Meskipun Jakarta panas sepanjang waktu, tetap saja keengganan menguasaiku untuk berwudhu. Setelah shalat dan menunggu waktu subuh, ternyata aku harus tidur lagi. Kantukku terasa lebih kuat dari niatku untuk langsung beraktivitas.

Hari demi hari kulalui dengan memaksakan diri untuk shalat tahajud. Sesekali rasa malas dan bosan pun menguasai diriku. Terlebih setelah hamper satu bulan ini toh tidak ada perubahan dalam hidupku. Tidak ada lelaki datang yang sesuai dengan impianku. Tidak ada pula tanda-tanda aku bakalan menemukan Hasan. Semuanya terasa tetap jauh dari impian dan harapanku.

Aku sering sedih menyadari kenyataan yang kuhadapi. Namun toh aku tetap bekeras untuk shalat tahajud, karena di waktu itulah aku bisa mengadukan semua jeritan hatiku pada sang Khalik. Aku bisa melumpahkan semua tangisanku tanpa perlu takut ada orang yang menertawai. Aku bisa mengungkapkan semua permohonan dan keinginanku.

Aku percaya Allah pasti mendengarkan semuannya. Mungkin saja Allah masih menyembunyikan jodohku karena akan member yang terbaik untukku. Bukankah yang paling baik itu selalu melalui proses yang panjang?

Sebenarnya aku juga ingin cepat menikah. Aku juga tidak ingin membuat orang tuaku sedih karena adikku harus mendahului aku. Namun apa mau dikata. Ketika waktu terus berlalu, adikku Lani jadi tidak bisa sabar lagi. Aku pun harus mengizinkan dia untuk menyiapkan segala sesuatunya, termasuk rencana lamaran oleh keluarga calon suaminya.
Setiap malam aku tersungkur pada sujud yang panjang. Rasanya tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain meminta pada-Nya.

Hari-hari berlalu. Aku tetap belum menemukan jodohku. Sementara lamaran pada adikku sudah dilakukan. Meskipun mencoba tegar, tetap saja hatiku menangis. Tetap saja ada yang terasa berat di sudut terdalam diriku. Ternyata ibuku benar. Menerima hal seperti ini butuh kebesaran hati dan jiwa.
(bersambung…….)

17 Comments (+add yours?)

  1. Agung Setyawan
    Jun 10, 2015 @ 12:48:37

    Sangat disayangkan komen gk pernah dimasukkan oleh admin, apa salahku, apa aku memasukkan gambar porno, pernah kah admin ? Aku emang serius cari calon knapa kok dicegah, Tolong tunjukan kesalahanku admin ? Wassallam !

    Reply

  2. Agung Setyawan
    Jun 10, 2015 @ 12:22:16

    Assallammualaikum wr wb, mbak bleikah aqu mengenalmu ? Aq Agung setyawan, krja wira usaha dibidang properti, no hpqu : 0896 2753 4040 0822 3397 8824, klu bleh tau mbak dimana alamatnya ?! Mungkin aqu bisa bantu anda mbak ? Klu emang berminat silahkan hubung aqu ya mbak !

    Reply

    • rhinie
      Jun 10, 2015 @ 14:45:42

      wa’alaikumsalam wr wb..

      Salam kenal pak agung.. perkenalkan saya rini, sangat senang saya bisa berkenalan dengan bapak. Bukan maksud tidak menampilkan koment langsung ke web saya, tp perlu ada filter untuk kebaikan bersama..Saya minta maaf jika hal tersebut membuat bpk tidak senang..

      Semoga perkenalan ini membawa kebaikan.. Aamiin..

      wassalam wr wb..

      Reply

  3. noficha priyamsari
    Aug 30, 2014 @ 16:47:43

    subhanallah betapa ajaibnya shalat tahajjud

    Reply

  4. Ira pranyoto
    Sep 24, 2013 @ 06:45:20

    Sangat terharuuuu…..

    Reply

  5. selvi
    Mar 21, 2013 @ 20:49:50

    Kisah ini mirip sekali dengan kisahku, saya merasa menjadi penghalang untuk 2 adik saya untuk menikah, saya merasa sudah putus asa dalam menwmukan jodoh. Jadi merasa minder dengan teman2 yg sudag memiliki keluarga yg lengkap. Semoga Allah selalu menguatkan kita dalam kesendirian.Amin

    Reply

  6. lina
    Mar 10, 2013 @ 22:03:39

    mirip kisahku,, adikku lelaki, dan ingin segera menikah meskipun masih muda, tp kata ayahku harus aku dulu sebagai kakaknya dan karena aku perempuan,, kalau aku laki2 sih tidak masalah katanya…. tapi karena aku kakak perempuan dgn adik laki2 harus aku dulu, kalau adikku dulu itu tidak baik,,, katanya…
    sering aku merasa tidak cantik ukh…
    aku juga bimbang dan dilema belum bertemu jodoh, aku takut sekali sendiri,,
    sering aku menangis dalam sholat kadang sering jatuh sakit, bahkan ketika aku menulis komen ini pun aku menitikkan air mata…

    Reply

    • rhinie
      Mar 11, 2013 @ 13:42:16

      jodoh itu kan datang indah pada waktunya, coba ukhti bicara dengan lembut dan baik pada ayah. Semoga ayah ukh diberikan hidayah untuk tidak menunda adik ukh menikah. Ukhti Lina, semua wanita itu cantik. Kecantikan akan terpancar pada pribadi dan akhlaq yang terpuji. Teruslah berprasangka baik padaNYA. seperti dalam twets @jomblomulia “Pantaskan diri kamu lagi,lagi dan lagi karena JODOH SEJATIMU itu akan dtg ktika kamu Jadilah Yang Terbaik Dahulu Baru Cari Yang Baik ^_^”.. Insya Allah.. Aamiin..

      Reply

  7. rohmatulhidayah1990
    Mar 07, 2013 @ 22:46:15

    bukannya tahajjud cinta nya Kinoysan?

    Reply

  8. Vera Astanti
    Nov 29, 2012 @ 10:32:44

    afwan ya ukhti, saya mau tanya ini cerpen ukhti sendiri kah?
    soalnya saya pernah membaca cerpen yang mirip cerita ini di buku Tahajud cinta ( Asma Nadia)

    Reply

    • rhinie
      Nov 29, 2012 @ 12:59:30

      iya bener sekali ini salah satu cerpen yg ada di buku Tahajud Cinta (Asma Nadia).. karena ceritanya menarik jadi saya masukkan dlm bloq dan lupa mencantumkan sumbernya.. terima kasih ya ukhti sudah diingatkan..🙂

      Reply

  9. Trackback: JODOHKU 2 « Berbagitulisan
  10. Hidayatullah, SE
    Oct 30, 2012 @ 20:31:02

    Reblogged this on Dey Faith Fully.

    Reply

  11. nzaoldyeck
    Sep 24, 2012 @ 17:06:46

    Assalamualaikum
    subbahanallah…
    Ceritanya bagus sekali, sayang harus bersambung…
    Tidak apalah, semoga ceritanya bisa d lanjutkan lagi…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: