JODOHKU 2

Akhirnya sampe juga di sambungan JODOHKU ini dia kelanjutannya..

Anak Bu Nila

“Mbak Sinta, siang ini Bu Nila minta bertemu. Soalnya minggu depan dia harus terbang ke Amrik untuk menghadiri wisuda anaknya,” kata Dewi padaku.

“Oke, saya telpon langsung Wi,” kataku pelan.

Jam dua belas siang aku meninggalkan kantor untuk ketemu Bu Nila. Mungkin saja Bu Nila ada ide-ide brilliant untuk kemajuan usaha di kantorku.
Kafe itu terlihat ramai. Aku melangkah masuk untuk mencari Bu Nila. Bu Nila terlihat melambaikan tangan padaku. Aku langsung menghampirinya.

“sudah pesan kok, Mbak Sinta. Tinggal tunggu anak saya,” kata bu Nila. “masih di jalan.”

Kami pun serius membicarakan investasi dan rencana kerja sama yang lebih luas. Tiba-tiba bu Nila tersenyum. “nah, itu anak saya!” serunya senang.

Aku ikut menoleh. Jantungku langsung berdetak-detak saat tahu sosok tinggi jangkung yang akan menghampiri tempat kami.

“Assalamu’alaikum. Maaf, Ma. Macet,” katanya yang langsung duduk dan sejenak menatapku agak lama. Aku hanya bisa menunduk.

“Wa’alaikumsalam. Tidak apa. Mbak Sinta ini anak saya, Hasan,” kata Bu Nila. “Dia belum punya calon istri. Padahal minggu depan wisuda. Saya pikir siapa tahu ada jodoh sama Mbak Sinta, makanya saya kenalin,”tambahnya.

Hasan tertawa.”kalo ini saya sudah kenal. Apa kabar Sinta? Mau nerima lamaran saya enggak? Mau dong, soalnya selama ini saya Istikharah yang muncul cuma wajah Sinta. Tapi saya enggak tahu gimana carinya. Soalnya abis lulus S-1 saya langsung lanjutin studi S-2 dan S-3 di Amerika,”terang Hasan pelan.

Aku langsung mendongak. Aku merasa tidak percaya dengan penuturan Hasan. Gimana mungkin semuanya terjadi? Lelaki yang kuharapkan siang malam hingga aku sering merasa tidak bisa menerima lelaki laen, kini ada dihadapanku. Bahkan ‘meminta’ karena petunjuk dari shalat istikharah. Apakah itu bukan sesuatu yang luar biasa?
Aku masih diam. Aku tidak tahu harus ngomong apa pada Hasan dan ibunya. Aku tidak menyangka bu Nila yang sekian tahun kukenal adalah ibu dari lelaku yang selama ini kucari-cari.

“kok bengong? Apa jawaban atas pertanyaan Hasan, Nak Sinta?” Tanya bu Nila memecah kediaman di antara kami.

“Iya, Ibu. Insya Allah. Saya sungguh enggak tahu kalo bu Nila ibu Hasan, orang yang selama ini saya cari-cari.”

“Lho, kenapa cari-cari saya? Dulu waktu kuliah kok engga mau dekat?” Tanya Hasan sambil tertawa.

Aku tidak menjawab.

Bu Nila tertawa. “kalo orang berjodoh biasanya akan saling merasa.”

“Benar itu, Ma. Saya juga merasa begitu. Apa Sinta pernah merasa kalo kita bakalan berjodoh?” Tanya Hasan padaku.

Aku mengangguk, kemudian tertegun. Tiba-tiba aku ingat ibuku. Mungkin ini balasan dari Tahajud dan doa-doa beberapa malam terakhir yang jadi kebiasaan rutinku lagi, setelah sekian lama kutinggalkan.

“Jadi, orang tuaku bisa langsung melamarmu, Sinta? Tanya Hasan.

Aku tersenyum. “Biar kukenalin kamu ke orang tuaku dulu.”

“Setelah itu Mama dan Papa akan mengurus semuanya untukmu, Hasan!” Bu Nila.

Aku benar-benar bersyukur. Alangkah ajaibnya. Allah memberikan apa yang kuminta lewat jalan yang tidak pernah kusangka-sangka. Sungguh Allah Maha Mengabulkan Doa.

TAMAT..

5 Comments (+add yours?)

  1. Yus irawan
    Apr 28, 2014 @ 18:07:54

    Cerita yg bagus

    Reply

  2. Rima
    Mar 28, 2014 @ 12:56:54

    Wow … Subhanallah … ku nangis bombay … dan tambah semangat u sholat tahajud lebih khusyuk … Amin Insya Allah

    Reply

  3. ahmad jian
    Dec 26, 2012 @ 07:04:42

    Bagus mbak Ceritanya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: